Jalur transmisi

Published Februari 6, 2013 by novisusantystmikpringsewu

Jaringan Listrik yang Mampu Memindahkan Arus Bolak-balik
Tulisan ini diposting pada hari Tuesday, 8 January 2013

Turbin angin, instalasi tenaga surya, dan unit-unit CHP (combined heat and power) secara bertahap mulai menggantikan bahan bakar konvensional. Ekspansi produksi listrik terbarukan dan terdesentralisasi menimbulkan peningkatan fluktuasi pada jaringan listrik. Oleh karena itu, para ahli sedang mengembangkan berbagai teknologi untuk jaringan pasokan listrik yang cerdas dan tangguh. Kapan kita mampu memindahkan energi bolak-balik yang berasal dari energi terbarukan dengan potensi dan ragam yang luar biasa di Indonesia?

Ketersediaan listrik yang tidak merata yang dihasilkan oleh angin dan matahari memerlukan jalur transmisi listrik baru (Foto/© panthermedia)

Energi terbarukan sedang digadang-gadangkan di berbagai negara termasuk di Indonesia. Energi terbarukan merupakan energi yang berasal dari alam yang dapat kita olah dari cahaya matahari atau surya, tenaga angin, tenaga air, tenaga gelombang laut, dan geothermal berupa panas bumi, bahkan dari berbagai jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia—semuanya dapat kita perbarui secara alamiah dengan bantuan teknologi.

Alam menyediakan berbagai sumber energi dalam jumlah yang sangat besar. Sumber energi selalu tersedia di sekitar kita dan siap kita olah menjadi sumber energi listrik. Tidak ada keraguan tentang potensi sumber energi terbarukan itu di Indonesia, negara-negara lain seperti Jerman pun mengoptimalkan penggunaan sumber energi terbarukan itu.

Barangkali, kelemahan kita adalah peenguasaan teknologi yang tidak kita kuasai sehingga negara-negara lain lebih unggul dan luan menikmati energi terbarukan yang berasal dari alam. Atau, kita lebih senang membeli dari negara-negara lain karena unsur bisnis yang menggiurkan ?

Rumah tangga menyedot dan memasok energi listrik

Kita dapat belajar dari Jerman yang telah menggunakan teknologi untuk mengolah energi terbarukan. Seperti di Jerman utara yang telah memiliki instalasi pembangkit listrik tenaga angin, sedangkan Jerman wilayah selatan memanfaatkan tenaga panas matahari, dan masih banyak lagi instalasi listrik tenaga angin lepas pantai yang masih dalam tahap perencanaan dan pembangunan.

Tiga tahun lalu, pembuat kebijakan—pemerintah federal Jerman—telah menetapkan target untuk memproduksi minimal 80 persen listrik dari sumber terbarukan pada tahun 2050. Jerman cukup kaget memelajari dampak ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Jepang beberapa waktu lalu. Para ahli di Jerman menyimpulkan bahwa energi hijau harus segera dimulai dan tampaknya menjadi semakin mendesak. Energi nuklir bakal disingkirkan ?

Siklus sumber energi terbarukan (Gambar : http://masbowo.com/)

Kita membutuhkan upaya besar untuk mewujudkan impian pasokan energi yang ramah lingkungan. Jaringan listrik harus direstrukturisasi secara mendasar untuk mengeluarkannya dari dunia pembangkit listrik skala besar dan transmisi melalui saluran tegangan tinggi ke dunia sistem fotovoltaik atap. Alasannya cukup mendasar karena aturan main—seperti undang-undang dan ketentuan hukum yang memayungi kebijakan baru—perlu diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan tiap negara.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik besar yang ditransmisikan hanya secara satu arah. Pada masa depan, ratusan ribu instalasi kecil akan memasok listrik ke jaringan listrik nasional bahkan jaringan listrik antarnegara—seperti recana Indonesia dan Malaysia—akan saling terkoneksi.

Tiap rumah tangga tidak lagi hanya menyedot arus listrik dari jaringan, namun akan mampu memasok energi ke jaringan itu sendiri yang kemudian ditranmisikan kepada pihak lain. Peran dan posisi jaringan pasokan sistem yang lama akan berubah menjadi jaringan pertukaran listrik di mana energi mengalir bolak-balik–padahal jaringan listrik yang sekarang ini tidak pernah dirancang untuk mengatasi masalah yang timbul—karena perubahan itu..

Jaringan energi pintar

Beberapa lembaga milik Fraunhofer (Jerman) telah menggabungkan kekuatan guna membentuk Jaringan Energi Pintar. Hal itu bertujuan untuk mengembangkan solusi teknis pada restrukturisasi besar-besaran jaringan listrik mulai dari tingkat rumah tangga dan jaringan tegangan rendah hingga tegangan tertinggi yang berada pada sistem jaringan listrik dan instalasi pembangkit listrik tenaga angin.

Sistem fotovoltaik adalah salah satu contoh. Sampai saat ini, jaringan distribusi tegangan rendah di tingkat masyarakat tidak memiliki teknologi untuk merekam secara rinci jumlah energi yang dimasukkan oleh berbagai modul tenaga surya ke dalam jaringan. Teknologi meteran resolusi tinggi yang lazim pada jaringan tegangan tinggi sama sekali tidak terdapat pada tegangan rendah. Alhasil, setiap sistem fotovoltaik individual memasok ke jaringan tanpa mengetahui apa yang barangkali sistem lain sedang dilakukan. Pada gilirannya hal itu menyebabkan fluktuasi besar dalam jaringan listrik-terjadi masalah yang dirasakan hingga sekarang ini.

Pada hari-hari cerah—karena matahari bercahaya baik—sistem berada pada puncaknya untuk memproduksi listrik. Bagaimana keadaan pada malam hari ? Produksi berhenti sama sekali. Saat ini, pembangkit listrik skala besar berbahan bakar batubara harus mengompensasi fluktuasi semacam itu. Pada masa yang akan datang akan bergantung pada pembangkitan listrik dengan energi terbarukan yang menjawab seluruh masalah. Tujuan itu akan dimungkinkan dengan teknologi kontrol baru yang saat ini sedang dikembangkan oleh para ilmuwan seperti Peter Bretschneider yang bekerja di Teknologi Sistem Pusat Aplikasi IOSB-AST, salah satu koordinator jaringan Fraunhofer.

Dia mengembangkan teknologi meteran dan keselamatan yang dirancang untuk mengkoordinasikan kegiatan sistem fotovoltaik satu sama lain dalam jaringan pendistribusian lokal. Salah satu teknologi adalah teknologi baru yang dapat menentukan jumlah listrik yang dipasok masing-masing sistem ke dalam jaringan dan pada tegangan berapa–mampu mengatasi masalah fluktuasi di sumbernya dan meningkatkan stabilitas jaringan.

“Pendekatan ini sangat menarik di daerah di mana sejumlah besar listrik bersumber pada photovoltaik,” tutur Bretschneider.

Dengan demikian peran jaringan listrik lebih cerdas—maksudnya lebih banyak kemampuan teknis—dibanding jaringan konvensional. Para ahli berbicara tentang “jaringan cerdas” yang berarti semua sistem pembangkit listrik dan perangkat yang mengonsumsi listrik, seperti mesin pencuci piring dan mobil listrik, mengomunikasikan dan mengkoordinasikan diri jaringan itu sendiri bergantung pada berapa banyak energi angin dan panas matahari yang tersedia.

Pada masa yang akan datang, hal itu memungkinkan perangkat listrik untuk menyesuaikan kebutuhannya menjadi lebih dan lebih bergantung pada ketersediaan pasokan energi hijau. Jika banyak energi hijau dalam suatu jaringan, energi hijau tersebut akan membangkitkan diri sendiri dan menggunakannya seoptimal mungkin. Beberapa proyek gabungan yang melibatkan Jaringan Fraunhofer telah menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat bekerja dengan baik.

Misalnya, proyek “eTelligence” di Cuxhaven, Jerman, yang didanai oleh Kementerian Federal Ekonomi Jerman dan Kementerian Federal untuk Lingkungan melalui E-Energy Initiative (Inisiatif E-Energi). Proyek ini antara lain mencari tahu sejauh mana gudang berpendingin dapat dioperasikan untuk merefleksikan ketersediaan energi angin. Jika banyak energi angin dalam suatu jaringan, gudang menurunkan temperatur standarnya, menciptakan semacam cadangan pendingin untuk mendinginkan gudang pada saat curah angin rendah ketika unit pendinginan dimatikan.

Meter pintar untuk pasokan energi berkelanjutan

Teknologi kontrol juga dapat diimplementasikan di rumah tangga, dalam bentuk meteran cerdas yang mampu berkomunikasi—maksudnya terkoneksi—dengan jaringan listrik. Beberapa perusahaan utilitas telah mulai menggunakannya.

Saat ini, berbagai peralatan hanya bisa menunjukkan tingkat konsumsi listrik, tetapi pada saatnya nanti mereka bisa mengendalikan peralatan rumah tangga seperti yang dilakukan di gudang berpendingin-berdasarkan harga listrik. Ketika sejumlah besar angin dan energi surya tersedia, harganya turun dan tentu saja logis secara ekonomi untuk menghidupkan mesin pencuci piring. Berkat meteran cerdas, proses ini akan sepenuhnya bersifat otomatis.

“Sistem energi cerdas semacam ini adalah kunci bagi pasokan energi yang berkelanjutan dan dapat diandalkan,” tegas Christof Wittwer dari Institut Fraunhofer untuk Solar Energy Systems ISE di Freiburg, anggota Jaringan Fraunhofer.

Tentu saja, aktivitas peralatan rumah tangga harus dikoordinasikan secara arif untuk mempertahankan stabilitas jaringan energi. Philipp Strauss, Division Director Systems Engineering and Grid Integration, dan tim insinyurnya di Institut Fraunhofer untuk Wind Energy and Energy System Technology IWES di Kassel telah mengembangkan sebuah solusi: perangkat lunak OGEMA, yang memungkinkan meteran cerdas dan perusahaan utilitas berkomunikasi.

“Perangkat lunak ini tidak hanya memastikan komunikasi, tetapi juga dapat mengontrol perangkat rumah tangga sesuai dengan preferensi masing-masing konsumen-berdasarkan harga listrik atau berdasarkan berapa banyak karbondioksida yang dilepaskan ketika dihasilkan.”

Perangkat lunak ini sudah diimplementasikan pada dua proyek lain dari Inisiatif E-Energi nasional. Sebuah proyek yang berlokasi di kota Mannheim difokuskan pada kontrol berbasis harga. Proyek di wilayah Harz bahkan selangkah lebih jauh, mencoba untuk mengotomatisasi koordinasi produksi energi hijau dari turbin angin, pembangkit listrik tenaga air, dan fasilitas tenaga surya dan biogas dengan sistem kelistrikan dan peralatan.

Bekerja sama dengan para ahli di Institut Fraunhofer untuk Integrated Circuits IIS di Erlangen, para ilmuwan berharap untuk terus mengembangkan dan mengintegrasikan perangkat lunak dengan konsep openMUC ISE guna menciptakan kerangka OGEMA2.0. Ini merupakan langkah penting pertama menuju sistem kontrol skala besar dan pembangkit listrik virtual masa depan, di mana sistem perangkat lunak cerdas mampu mengontrol banyak pembangkit listrik skala kecil sehingga, secara kolektif, mereka mengalirkan listrik sehandal dan sekonsisten pembangkit listrik skala besar konvensional.

Para pakar IWES saat ini mengerjakan sebuah paket perangkat lunak yang dinamai Windcluster Management System, berfungsi untuk mengoordinasikan kegiatan pembangkit listrik tenaga angin daratan dan lepas pantai satu dengan yang lainnya. Ini juga merupakan soal mengendalikan energi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik untuk mengompensasi fluktuasi.

Bidang terakhir masih tetap sama-jaringan energi terbarukan selusuh Eropa. “Barangkali kami hanya bisa menjamin pasokan energi terbarukan yang dapat diandalkan di Eropa setelah pembangkit utama dan pusat-pusat beban terhubung satu sama lain melintasi batas negara-negara Uni Eropa,” kata Kurt Rohrig, pakar jaringan listrik di IWES.

Seperti yang mereka katakan, angin selalu bertiup di suatu tempat. Jika udara masih berada di atas Laut Utara, mungkin ada tiupan angin di atas Teluk Biscay. Prinsip yang sama berlaku untuk tenaga surya. Listrik dapat diangkut dari satu ujung Eropa ke ujung lain yang bergantung pada kondisi cuaca.

Tentu saja Dr Rohrig menyadari keterbatasannya. Saat ini, tidak ada cara untuk memindahkan sejumlah energi yang diperlukan secara bolak-balik, karena kapasitas transmisi di seluruh interkoneksi jaringan di perbatasan nasional tidak memadai. Salah satu solusinya, lanjut Rohrig adalah memasang saluran DC berkapasitas tinggi baru yang dapat menghantar listrik melintasi jarak yang lebih luas dengan lebih sedikit kehilangan dibandingkan dengan saluran AC konvensional. Akan tetapi, tujuannya bukan untuk meng-kover kebutuhan listrik Eropa dengan jaringan listrik yang baru sama sekali.

Rohrig menegaskan, “(Hal) itu akan menjadi terlalu mudah. Saya melihat tugas kami saat ini yang paling penting adalah memerkirakan dengan tepat kebutuhan akan kapasitas transmisi baru. Tujuannya adalah ekspansi jaringan secara wajar dan sesuai.”

Sebelum hal ini bisa terjadi kita perlu tahu seberapa bagus suatu daerah tunggal dapat dipasok dengan energi hijau hanya dengan menggunakan jaringan cerdas. Semakin cerdas dan efisien jaringan ini, semakin sedikit energi yang pada akhirnya harus dihantarkan ke seluruh Eropa. Tim spesialis jaringan masih menghadapi banyak tantangan. Bagaimana peran pakar kelistrikan di Indonesia? Sumber energi seperti batubara dan bahan bakar lainnya hanya tersisa untuk beberapa tahun. Saatnya pakar listrik dan energi berbuat lebih baik untuk negeri ini. (Bahan diolah dari hasil penelitian Tim Schröder; http://www.fraunhofer.de/magazine dan sumber lainnya).

Pengertian dan Tujuan Rekayasa Perangkat Lunak

Posted by Aditya Nugroho on Kamis, November 22, 2012

 

Kali ini saya akan share kembali mengenai materi perkuliahan. Berbeda dengan bahasan sebelumnya kali ini yang akan saya bahas dan dan share disini mengenai Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) / Software Engineering. Ingin tahu lebih lanjut mengenai apa itu Rekayasa Perangkat Lunak, Tujuan dan Keterkaitannya dengan disiplin ilmu yang lain, berikut ulasanya :

Pengertiaan dan Definisi 

Menurut Wikipedia : Rekayasa perangkat lunak adalah satu bidang profesi yang mendalami cara-cara pengembangan perangkat lunak termasuk pembuatan, pemeliharaan, manajemen organisasi pengembanganan perangkat lunak dan manajemen kualitas.

Menurut IEEE Computer Society : Rekayasa perangkat lunak sebagai penerapan suatu pendekatan yang sistematis, disiplin dan terkuantifikasi atas pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan perangkat lunak, serta studi atas pendekatan-pendekatan ini, yaitu penerapan pendekatan engineering atas perangkat lunak.

Rekayasa Perangkat Lunak adalah pengubahan perangkat lunak itu sendiri guna mengembangkan, memelihara, dan membangun kembali dengan menggunakan prinsip reakayasa untuk menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja lebih efisien dan efektif untuk pengguna.

Tujuan Rekayasa Perangkat Lunak

Secara lebih khusus kita dapat menyatakan tujuan dan Rekaya Perangkat Lunak ini adalah:
  1. Memperoleh biaya produksi perangkat lunak yang rendah.
  2. Menghasilkan pereangkat lunak yang kinerjanya tinggi, andal dan tepat waktu
  3. Menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja pada berbagai jenis platform
  4. Menghasilkan perangkat lunak yang biaya perawatannya rendah
Kriteria Dalam Merekayasa Perangkat Lunak
 
  1. Dapat terus dirawat dan dipelihara (maintainability)
  2. Dapat mengikuti perkembangan teknologi (dependability)
  3. Dapat mengikuti keinginan pengguna (robust).
  4. Efektif dan efisien dalam menggunakan energi dan penggunaannya.
  5. Dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan (usability).

Ruang Lingkup Rekayasa Perangkat Lunak

  1. Software Requirements berhubungan dengan spesifikasi kebutuhan dan persyaratan perangkat lunak.
  2. Software desain mencakup proses penampilan arsitektur, komponen, antar muka, dan karakteristik lain dari perangkat lunak.
  3. Software construction berhubungan dengan detail pengembangan perangkat lunak, termasuk. algoritma, pengkodean, pengujian dan pencarian kesalahan.
  4. Software testing meliputi pengujian pada keseluruhan perilaku perangkat lunak.
  5. Software maintenance mencakup upaya-upaya perawatan ketika perangkat lunak telah dioperasikan.
  6. Software configuration management berhubungan dengan usaha perubahan konfigurasi perangkat lunak untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
  7. Software engineering management berkaitan dengan pengelolaan dan pengukuran RPL, termasuk perencanaan proyek perangkat lunak.
  8. Software engineering tools and methods mencakup kajian teoritis tentang alat bantu dan metode RPL.

Rekayasa Perangkat Lunak dan Disiplin Ilmu Lain

Cakupan ruang lingkup yang cukup luas, membuat RPL sangat terkait dengan disiplin dengan bidang ilmu lain. tidak saja sub bidang dalam disiplin ilmu komputer namun dengan beberapa disiplin ilmu lain diluar ilmu komputer.
Keterkaitan RPL dengan bidang ilmu lain
  • Bidang ilmu manajemen meliputi akuntansi, finansial, pemasaran, manajemen operasi, ekonomi, analisis kuantitatif, manajemen sumber daya manusia, kebijakan, dan strategi bisnis. 
  • Bidang ilmu matematika meliputi aljabar linier, kalkulus, peluang, statistik, analisis numerik, dan matematika diskrit.
  • Bidang ilmu manajemen proyek meliputi semua hal yang berkaitan dengan proyek, seperti ruang lingkup proyek, anggaran, tenaga kerja, kualitas, manajemen resiko dan keandalan, perbaikan kualitas, dan metode-metode kuantitatif.

Mungkin itu dulu yang bisa saya share pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.

Rekayasa Perangkat Lunak (RPL)

Published Februari 13, 2012 by novisusantystmikpringsewu

Pengertian dan Tujuan Rekayasa Perangkat Lunak
Posted by Aditya Nugroho on Kamis, November 22, 2012

Kali ini saya akan share kembali mengenai materi perkuliahan. Berbeda dengan bahasan sebelumnya kali ini yang akan saya bahas dan dan share disini mengenai Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) / Software Engineering. Ingin tahu lebih lanjut mengenai apa itu Rekayasa Perangkat Lunak, Tujuan dan Keterkaitannya dengan disiplin ilmu yang lain, berikut ulasanya :

Pengertiaan dan Definisi

Menurut Wikipedia : Rekayasa perangkat lunak adalah satu bidang profesi yang mendalami cara-cara pengembangan perangkat lunak termasuk pembuatan, pemeliharaan, manajemen organisasi pengembanganan perangkat lunak dan manajemen kualitas.

Menurut IEEE Computer Society : Rekayasa perangkat lunak sebagai penerapan suatu pendekatan yang sistematis, disiplin dan terkuantifikasi atas pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan perangkat lunak, serta studi atas pendekatan-pendekatan ini, yaitu penerapan pendekatan engineering atas perangkat lunak.

Rekayasa Perangkat Lunak adalah pengubahan perangkat lunak itu sendiri guna mengembangkan, memelihara, dan membangun kembali dengan menggunakan prinsip reakayasa untuk menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja lebih efisien dan efektif untuk pengguna.

Tujuan Rekayasa Perangkat Lunak

Secara lebih khusus kita dapat menyatakan tujuan dan Rekaya Perangkat Lunak ini adalah:

Memperoleh biaya produksi perangkat lunak yang rendah.
Menghasilkan pereangkat lunak yang kinerjanya tinggi, andal dan tepat waktu
Menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja pada berbagai jenis platform
Menghasilkan perangkat lunak yang biaya perawatannya rendah

Kriteria Dalam Merekayasa Perangkat Lunak

Dapat terus dirawat dan dipelihara (maintainability)
Dapat mengikuti perkembangan teknologi (dependability)
Dapat mengikuti keinginan pengguna (robust).
Efektif dan efisien dalam menggunakan energi dan penggunaannya.
Dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan (usability).

Ruang Lingkup Rekayasa Perangkat Lunak

Software Requirements berhubungan dengan spesifikasi kebutuhan dan persyaratan perangkat lunak.
Software desain mencakup proses penampilan arsitektur, komponen, antar muka, dan karakteristik lain dari perangkat lunak.
Software construction berhubungan dengan detail pengembangan perangkat lunak, termasuk. algoritma, pengkodean, pengujian dan pencarian kesalahan.
Software testing meliputi pengujian pada keseluruhan perilaku perangkat lunak.
Software maintenance mencakup upaya-upaya perawatan ketika perangkat lunak telah dioperasikan.
Software configuration management berhubungan dengan usaha perubahan konfigurasi perangkat lunak untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Software engineering management berkaitan dengan pengelolaan dan pengukuran RPL, termasuk perencanaan proyek perangkat lunak.
Software engineering tools and methods mencakup kajian teoritis tentang alat bantu dan metode RPL.

Rekayasa Perangkat Lunak dan Disiplin Ilmu Lain

Cakupan ruang lingkup yang cukup luas, membuat RPL sangat terkait dengan disiplin dengan bidang ilmu lain. tidak saja sub bidang dalam disiplin ilmu komputer namun dengan beberapa disiplin ilmu lain diluar ilmu komputer.
Keterkaitan RPL dengan bidang ilmu lain

Bidang ilmu manajemen meliputi akuntansi, finansial, pemasaran, manajemen operasi, ekonomi, analisis kuantitatif, manajemen sumber daya manusia, kebijakan, dan strategi bisnis.
Bidang ilmu matematika meliputi aljabar linier, kalkulus, peluang, statistik, analisis numerik, dan matematika diskrit.
Bidang ilmu manajemen proyek meliputi semua hal yang berkaitan dengan proyek, seperti ruang lingkup proyek, anggaran, tenaga kerja, kualitas, manajemen resiko dan keandalan, perbaikan kualitas, dan metode-metode kuantitatif.

Mungkin itu dulu yang bisa saya share pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.


VIVAnews

– Bus Karunia Bakti hilang kendali dan menghantam tebing pembatas di Jalan Raya Puncak, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat 10 Februari 2012. Sebanyak 14 orang meninggal, sementara 46 orang lainnya luka-luka. Dari penyelidikan diketahui rem bus bernomor polisi Z 1795 DA itu blong.

Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 18.15 WIB. Bus jurusan Garut-Jakarta yang melaju kencang dari arah Puncak mengalami rem blong 300 meter dari gerbang Taman Safari atau tepat di depan Hotel Green Safari.

Karena tak terkendali, benturan kencang antara bus Karunia Bakti dan bus Doa Ibu yang datang dari arah berlawanan tak dapat dihindari. Sisi kanan bus yang menuju Tasikmalaya itu hancur. Banyak korban meninggal di bagian depan.

Masih meluncur kencang, bus maut itu kemudian menabrak Suzuki APV B8539 MV, dua Colt bak terbuka, Toyota Kijang D 1582 DF, angkot, kemudian Toyota Avanza B 1536 SKB, Nissan Grand Livina F 1472 HD, Mitsubishi Pajero F 1481 SJD, dan menggilas sejumlah motor.

Bus baru berhenti setelah menabrak warung bakso Ojo Lali, dan masuk ke tebing pembatas vila yang ada di sebelah ruko kantor bank. Di lokasi ini, Isah pemilik warung bakso ikut menjadi korban, dan meninggal.

Raungan mobil ambulans terus terdengar tak lama setelah kecelakaan. Kemacetan total terjadi hingga lebih dari 6 jam. Polisi dan warga bahu-membahu mengevakuasi korban yang terjebak di dalam bus Karunia Bakti yang terperosok.

Korban dibawa ke Rumah Sakit Paru Cisarua, dan sebagian dirujuk ke RS PMI Bogor. Dengan kondisi moncong bus berada di bawah, banyak korban menumpuk dan terjepit jok kendaraan (Lihat daftar korban).

Para penumpang sebenarnya sudah mencium gelagat buruk sejak bus melaju. Sopir bus sudah diperingatkan agar berhati-hati, tapi imbauan itu tidak digubris.

Evakuasi terhambat

Kecelakaan ini tentu membuat petugas sibuk. Puluhan polisi pengendali massa (Dalmas) dikerahkan mengamankan lokasi kejadian. Ratusan orang yang berhenti dan menonton mengakibatkan kemacetan hingga 10 km dari arah Jakarta, maupun dari arah sebaliknya. Jalur Puncak bahkan sempat ditutup total saat identifikasi dan evakuasi bus dilakukan.

Pada pukul 04.20 WIB, Sabtu 11 Februari 2012, atau setelah lebih dari sepuluh jam pasca kecelakaan, polisi baru dapat mengevakuasi bus. Evakuasi mengalami hambatan karena badan bus yang rusak parah tertahan pagar.

Tim Analisis Kecelakaan Lalu Lintas Mabes Polri mencatat ada empat faktor penyebab kecelakaan. Yaitu, kondisi kendaraan, kemiringan jalan hingga lima derajat, pengemudi, dan lingkungan.

“Masalah kendaraan, di sini terlihat sekali bentuk-bentuk dari bekas rem kendaraan yang tidak mutlak. Artinya, kendaraan ini tidak mengerem dengan bagus,” kata Ketua Tim Analisis Kecelakaan Mabes, Ajun Komisaris Edwin.

Dalam kasus ini, polisi juga menambah faktor cuaca yang saat itu sedang hujan sehingga membuat jalan bertambah licin. Sedangkan faktor pengemudi, kepolisian mengaitkan dengan konsentrasi sopir dan tata cara mengemudi kendaraan bus.

“Faktor terakhir, kebetulan lingkungan saat itu dalam kondisi ramai. Ini menimbulkan korban jiwa yang banyak,” kata dia.

Hasil penyelidikan ini kemudian akan disambungkan dengan bentuk-bentuk kerusakan kendaraan dan toko-toko yang diseruduk bus itu.

Sementara Tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga mendapatkan hasil tidak jauh berbeda. Kondisi bus yang tidak dapat direm, faktor jalan menurun, dan keadaan jalan di lokasi kejadian yang memang sempit menjadi penyebab.

“Faktanya memang jalan sempit, jadi nantinya banyak aspek yang akan kami coba perbaiki,” kata Ketua KNKT, Marsekal Muda TNI Tatang Kurniadi.

KNKT masih terus mengumpulkan bukti-bukti dengan mewawancarai sopir bus, kernet, dan saksi yang ada di lokasi kejadian. Butuh waktu hingga tiga bulan untuk mengetahui pasti sebab kecelakaan itu.

Sopir tersangka

Polres Bogor akhirnya menetapkan Lukman Iskandar, sopir Karunia Bhakti, sebagai tersangka dalam kecelakaan maut itu. Lukman terbukti lalai sehingga menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa.

Sesaat setelah kecelakaan, Lukman dan kernetnya, Rohman, melarikan diri. Tapi sekitar pukul 02.00 WIB, ditangkap di kawasan Garut, Jawa Barat. Penangkapan dilakukan tanpa perlawanan di rumah si sopir atas petunjuk pengurus PO Karunia Bakti. Sementara kernet bus bernama Rohman menyerahkan diri setelah sopir ditangkap.

Saat diperiksa, Lukman membenarkan kejadian itu akibat rem blong. Namun, sebelum kecelakaan nahas itu terjadi, Lukman berhenti di Puncak untuk memeriksa rem busnya.

“Tapi pengecekan dilakukan orang lain, bukan sopir. Itu yang akan kita dalami lagi. Sampai saat ini kami masih memintai keterangan tersangka,” kata Kasat Lantas Polres Bogor, Ajun Komisaris Zainal Abidin kepada VIVAnews.

Keterangan itu dibenarkan Rohman. Tapi kecelakaan tidak dapat dihindari. Ia kaget karena saat melintasi di kawasan Cisarua, si sopir berteriak-teriak, dan saat itu segera disadari Rohman bahwa rem bus blong.

Rohman mengaku mengambil tindakan dan melakukan evakuasi dengan memerintahkan seluruh penumpang bus untuk berpindah ke kursi bagian belakang. Lihat video di sini.

“Saya sempat membantu sopir untuk menurunkan gigi agar kendaraan bisa berhenti,” kata Rohman.

Mengapa beruntun?

Kecelakaan disebabkan kecerobohan ini memaksa Kementerian Perhubungan mempercepat uji kelayakan bus antar kota antar provinsi (AKAP). Pemeriksaan kelayakan semula dilakukan setiap enam bulan sekali, akan dilakukan dua bulan sekali. Sementara izin trayek perusahaan bus maut itu akan dicabut.

Kebijakan itu diambil karena maraknya kecelakaan akibat kondisi bus yang tak lain jalan.

Belum lagi kering air mata keluarga korban, publik dikejutkan oleh kecelakaan serupa disebabkan rem blong di Jalan Raya Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, Minggu 12 Februari 2012. Dua orang meninggal, dan 13 orang mengalami luka-luka.

Bus pariwisata Jaya Prima yang hilang kendali meluncur sejauh 200 meter dan menabrak dua truk, tiga delman satu becak, gerobak bakso, empat motor, dan terakhir mobil sedan berwarna silver.

Sopir bus Egi Ginanjar, 23 tahun, warga Purwakarta, Jawa Barat, kini ditahan di Polsek Kadipaten. Dari keterangan awal diakui bus hilang kendali karena rem blong.

Sebelumnya, Bus Sinar Jaya jurusan Jakarta-Purwokerto, mengalami kecelakaan di Jalan Lingkar Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, dan masuk jurang pada Sabtu malam, 4 Februari 2012. Sebanyak 16 penumpang mengalami luka serius. Kejadian ini disebabkan sopir bus belum menguasai jalan.

Bus Sinar Jaya lainnya juga mengalami kecelakaan tragis, saat menabrak mobil Toyota Avanza di Desa Sukra Wetan, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, pada Sabtu 17 Desember 2011. Akibat kecelakaan itu, delapan orang di dalam mobil Toyota Avanza, tewas seketika. Mereka adalah satu keluarga yang baru saja pulang melayat.

Kecelakaan bus paling maut terjadi di jalur By Pass Mojokerto pada Senin, 12 September 2011 lalu. Bus jurusan Surabaya-Yogyakarta yang bertabrakan dengan travel minibus menyebabkan 19 orang tewas, dan belasan penumpang mengalami luka berat.
• VIVAnews
http://www.google.co.id/search?q=berita+bus+maut+di+bogo&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

Published Februari 12, 2012 by novisusantystmikpringsewu

A. RAGAM BAHASA BERDASARKAN MEDIA/SARANA

Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh
Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis
1. Putri bilang kita harus pulang 1. Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2. Ayah lagi baca koran 2. Ayah sedang membaca koran
3. Saya tinggal di Bogor 3. Saya bertempat tinggal di Bogor
B. RAGAM BAHASA BERDASARKAN PENUTUR

Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek). Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1) Ira mau nulis surat à Ira mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang Kancil à Saya akan menceritakan tentang Kancil.

Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan.
Bahasa baku dipakai dalam :
a. pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran;
b. pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat;
c. komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang;
d. wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.

Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya meliputi
a. tata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat, pedomannya adalah buku Tata Bahasa Baku Indonesia;
b. kosa kata berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
c. istilah kata berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah;
d. ejaan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD);
e. lafal baku kriterianya adalah tidak menampakan kedaerahan.
C. RAGAM BAHASA MENURUT POKOK PERSOALAN ATAU BIDANG PEMAKAIAN

Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.
Sanksi Pelanggaran Pasal 44:
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus jutarupiah).
Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual pada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hasil hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Digusur, Bayi 3 Minggu Ikut Mengungsi di Kolong Fly Over

Published Februari 7, 2012 by novisusantystmikpringsewu

JAKARTA

– Wajah murung dan sedih terpancar dari wajah Sri Rahayu (30), salah satu korban penggusuran. Dia masih terpukul karena rumah kontrakan yang ditempatinya bersama suami dan 4 anaknya harus dibongkar petugas.

– Wanita asal Desa Rongkeyang, Comal, Pemalang, Jawa Tengah ini, makin bingung lantaran anaknya yang masih merah dan baru berusia 23 hari terpaksa tinggal bersama kakak-kakaknya di kolong fly over Pemuda, Jalan Ahmad Yani, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.

– “Suami saya belum mendapatkan kontrakan yang murah,” ujar Sri, sambil menggantikan popok anaknya, kepada wartawan, Selasa (7/1/2012).

– Menurutnya, dia sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya yang masih balita. Terlebih kesehatan anak terakhirnya, Muhammad Nurul Hanam, yang masih berumur tiga minggu. “Di sini kalau hujan dingin sekali, jadi khawatir sama anak saya yang masih bayi,” jelasnya.

– Sri menuturkan, dirinya diajak suami yang bekerja sebagai pengumpul barang-barang bekas sekira sembilan bulan lalu, saat dirinya sedang hamil. “Suami ingin saya bersama anak-anak tinggal di Jakarta,” jelasnya.

– Namun tinggal di Jakarta, tidak seindah dengan apa yang dipikirkannya, karena baru sembilan bulan tinggal di Jakarta dia terpaksa harus tinggal di kolong fly over, setelah rumah kontrakannya di gusur oleh petugas. “Saya kira tinggal di Jakarta itu enak, tahunya sekarang hars tinggal di bawah jembatan,” ungkapnya.

– Saat ditanya akan tinggal dimana dia bersama keluarganya, Sri mengaku masih bingung, apakah akan kembali ke kampung atau mencari rumah kontrakan baru. “Kalau mau cari kontrakan suami penghasilannya hanya Rp50 ribu, saya jadi bingung,” terangnya.

– Saat ini, Sri beserta bayi yang baru dilahirkan dan anak-anak lainnya terpaksa tinggal sementara di bawah fly over Pemuda, dan mengharapkan bantuan pemerintah untuk mencarikannya tempat tinggal yang lebih baik.

– “Ya semoga pemerintah berbaik hati dapat memberikan tempat tinggal sementara buat saya dana anak-anak,” tambah Sri sambil menyusui anaknya, Nurul.